MEMANG LIDAH TAK BERTULANG

By: Hendrawarman Nasution
Publisher: PELITA

Memang lidah tak bertulang…/ tak berbatas kata-kata…./ tinggi gunung sribu janji…/ lain di bibir… lain di hati…

Bait-bait lagu tempo doeloe ini terasa pas mengantar udara Jakarta yang terasa mulai memanas sebagai dampak tidak langsung dimulainya pilkada DKI Jakarta awal Juni lalu. Apapun caranya, para kontestan akan berusaha menarik simpati guna meraup suara terbanyak pemilih. Caranya… ada yang wajar-wajar saja seperti mengajukan visi-misi, program, bantuan material untuk korban musibah, bazar, pasar malam sampai dang dut-an. Pun ada yang di luar kewajaran, seperti menebar rumor, isyu, sampai janji-janji gombal yang selangit indahnya.

Kebanyakan warga Jakarta sendiri, mereka nggak banyak omong selain menikmati sebanyak mungkin sajian sesaat menu makan siang atau apapun yang disediakan tim sukses. Apa yang terjadi setelah itu, Ee.. Ge.. Pe..-Emang Gue Pikirin.

Potret atensi warga sebagai partisipan aji mumpung memang hampir persis seperti ceritanya Bung Agus Budiman (Sejarah Kecil di Sebuah Desa, Kompas, 23 Juni 2007). Ini harus diterima sebagai realitas. Tapi tidak sedikit pula warga yang concern untuk mengikuti secara serius mengenai janji-janji kampanye para pemimpin daerahnya. Mereka mempunyai rasa tanggung jawab untuk kemajuan dan kemunduran daerahnya. Demi kepentingan merekalah pencerahan dari para akademisi harus dilakukan.

Mulai dari Pilkada DKI

Setelah beberapa puluh tahun pemilihan pasangan calon gubernur dilakukan melalui droping dari pemerintah pusat, sekarang untuk pertama kalinya warga Betawi melakukan pemilihan kepala daerah secara langsung. Karenanya ini merupakan momentum yang perlu mendapat perhatian.

Dua hal yang membuat momen ini patut mendapat perhatian serius dari para pengamat, baik lokal, nasional maupun internasional. Pertama adalah karena provinsi ini merupakan ibu kota Negara Republik Indonesia maka ia merupakan barometer bagi provinsi-provinsi lainnya. Sebagai ibu kota Negara, provinsi DKI Jakarta merupakan pusat berjalannya pemerintahan nasional, segala keputusan dan regulasi yang bersifat nasional ditentukan disini. Demikian pula motor penggerak roda perekonomian nasional sebagian besar berpusat di Jakarta.

Faktor-faktor di atas bagaimanapun ikut menentukan kelancaran jalannya roda pemerintahan nasional. Stabilitas dan kekacauan di provinsi ini akan ikut menentukan stabilitas pemerintahan pusat. Sejarah telah berulang kali menunjukkan pada kita bahwa hampir semua perubahan besar di republik ini diawali dari ibu kota.

Hal kedua yang membuat pilkada DKI Jakarta menjadi penting adalah karena provinsi ini merupakan salah satu provinsi paling dinamis di antara provinsi-provinsi lain di Republik Indonesia. Berbagai persoalan mulai dari yang sederhana sampai yang multi dimensi dapat ditemui.

Melihat permasalahan yang multi kompleks baik di bidang ekonomi, social, budaya, politik, hukum dan hankam, maka kepemimpinan yang diperlukan juga harus sesuai dengan karakter permasalahan daerah. Karenanya kemampuan yang diperlukan untuk menjadi pimpinan daerah ini bukan hanya kemampuan manajerial semata tetapi juga diperlukan kemampuan ekstra. Ia tidak hanya dituntut untuk mampu memenuhi aspirasi warganya sendiri tetapi juga harus mampu memfasilitasi dan mengakomodasi kepentingan warga daerah lain dan bahkan internasional. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa para mantan pimpinan DKI Jakarta merupakan orang-orang yang mempunyai kemampuan manajerial plus.

Mengingat strategisnya arti provinsi DKI Jakarta maka pemilihan kepala daerah menjadi momen penting untuk dicermati berbagai pihak, kelompok maupun partai. Keberhasilan dan kegagalan pilkada DKI harus dicermati oleh daerah pemilihan lain -keberhasilannya harus ditularkan dan kegagalannya harus diwaspadai.

Program-Program Terukur

Ketika keberhasilan seorang pemimpin adalah tercermin dari kemampuan untuk melihat permasalahan dan mencarikan solusinya, maka penyusunan program-program yang akan dicapai menjadi kunci dalam memulai langkah kepemimpinan. Tanpa adanya program-program yang jelas dan feasible, seorang pemimpin tidak akan mempunyuai tujuan dan arah yang pasti. Janji-janji pencapaian pun hanya diucapkan sebatas retorika semata.

Pada sisi lain, indikator-indikator, baik kualitatif maupun kuantitatif, harus dibuat untuk dipergunakan sebagai dasar pengukuran dan memetakan keberhasilan program seorang pemimpin. Indikator-indikator ini selanjutnya dikategorikan kedalam format yang applicable untuk semua kubu. Indikator-indikator yang bersifat kuantitatif inilah yang kemudian akan menjelaskan pada kita seberapa jauh target akan dan sudah dicapai.

Beberapa contoh indikator kuantitatif yang dapat diterapkan misalnya besaran anggaran pendidikan, jumlah kemiskinan di masing-masing tingkat, tingkat pengangguran, biaya sekolah, dll. Sedangkan yang bersifat kualitatif dilakukan scoring guna memungkinkan perhitungan secara kuantitatif.

Dengan indikator-indikator seperti di atas, para konstituen berhak mempertanyakan besaran yang akan dicapai manakala sang cagub memerintah. Jadi jangan salahkan warga bila ‘bukti-bukti’ ini dijadikan isyu yang merongrong masa pemerintahannya bila sasaran yang digembar-gemborkan tidak dicapai. Sebaliknya, ini juga menjadi ‘bukti-bukti’ yang otentik dari kemampuannya memimpin.

Nggak PeDe..

Tapi maunya memang muluk, kenyataan lapangan memperlihatkan bahwa tidak mudah memperoleh data demikian, baik dari kubu Bang Adang maupun Bang Foke. Hampir semua cara telah dilakukan penulis untuk memperoleh informasi resmi dari masing-masing kubu tapi hasilnya nol dan masih janji-janji besar.

Untuk menghibur diri penulis hanya mencari pembenaran positif, mungkin karena mereka orang yang taat hukum (karena belum waktunya kampanye) jadi mengeluarkan program-program andalan adalah menjadi haram. Boleh juga… Tapi rekan penulis yang orang Betawi nyeletuk, lha… gimane ame spanduk-spanduk ntu….!? Emang dasar aje nggak Pe.. De…… (percaya diri)

Sumber : Harian Umum Pelita

About Hendrawarman Nasution

JUST AN ORDINARY PERSON
This entry was posted in Politics. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s