Penggabungan SDSN Guntur 03 Pagi & 04 Menuai Pro Kontra (Artikel 1)

Bertentangan dengan hasil positif yang banyak dicapai di sekolah-sekolah lain, ternyata SK Kepala Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta No. 1349/2012 tentang Penggabungan Sekolah Dasar Negeri Provinsi DKI Jakarta menyimpan segudang pontensi konflik.

Di SDSN Guntur 03 Pagi Jakarta, contohnya, SK Kadis ini menuai pendapat pro dan kontra. Pasalnya, SK ini (oleh ketua komite periode 2009-2012) dijadikan dasar hukum untuk memperpankang masa jabatan komite yang menurut Peraturan Pemerintah seharusnya berakhir secara otomatis setelah menjabat genap 3 tahun. Dengan berbekal SK Kadis pula, ketua komite menyatakan tidak syah dan meminta dibubarkannya forum rapat wali murid yang bermaksud membentuk panitia pemilihan ketua komite.

Walaupun dari sisi hirarki hukum dan peraturan, tindakan memanfaatan SK Kadis sebagai dasar hukum dapat menjadi bahan tertawaan guyonan banyak orang, tulisan ini bermaksud memperjelas serta mendudukkan masalah penggabungan/regrouping dan pemilihan komite sekolah sebagai dua binatang yang berbeda.

Penggabungan/Regrouping

Secara yuridis, segala hal yang berkenaan dengan masalah penggabungan sekolah di pemprov DKI harus merujuk pada Pergub Prov DKI Jakarta No. 105 Tahun 2012 pasal 1 ayat 41. Peraturan Gubernur ini menyatakan bahwa penggabungan adalah penggabungan satuan pendidikan/ bidang keahlian/ kompetensi keahlian yang diakibatkan tidak terpenuhinya persyaratan penyelenggaraan pendidikan.

Sesuai namanya, penggabungan sekolah adalah suatu upaya pemerintah daerah untuk menciptakan efisiensi manajemen dan perampingan administrasi sekolah. Langkah ini adalah solusi dari inefisiensi yang diakibatkan adanya pemisahan manajemen dan administrasi dua atau beberapa sekolah yang berlokasi dalam satu komplek, bahkan satu atap.

Dari data sekolah dasar yang ada di provinsi DKI, 213 sekolah dasar berada dalam 101 lokasi yang sama. Kondisi ini menyebabkan pemborosan dan tumpang tindihnya berbagai fungsi.

Menjaga kebersihan sekolah, misalnya, adalah satu contoh sederhana dari sekian banyak kesemrawutan yang dapat disebutkan. Dalam komplek yang memiliki dua sekolah atau lebih, petugas kebersihan sekolah bawah (lantai 1) sering dibuat jengkel oleh siswa sekolah yang berada di atas (lantai 2) yang membuang sampah ke bawah. Sementara petugas kebersihan sekolah atas merasa bahwa sampah yang bertebaran bukan bagian dari tanggung jawabnya.

Contoh lain yang lebih kompleks adalah pemanfaatan fasilitas yang sering kali dimonopoli oleh sekolah yang membangun suatu sarana/prasarana sehingga memberikan kesan diskriminatif bagi peserta didik sekolah lain. Pemanfaatan tempat cuci tangan (washtafel) atau mushollah yang dibangun oleh suatu sekolah, misalnya, sering kali dimonopoli oleh warga sekolah tersebut sehingga akan tidak nyaman ketika siswa sekolah lain yang berada dalam satu komplek (lokasi) ingin mempergunakannya. Belum lagi kesan diskriminasi yang timbul karena perbedaan standar kualitas, aktifitas, dll.

Hal-hal seperti ini menciptakan suburnya kecemburuan sosial yang meniup api dalam sekam dan sering menciptakan masalah yang tidak perlu. Tidak perlu disebutkan penghematan yang dapat dilakukan dalam hal belanja pegawai, pembelian inventaris dan media pembelajaran maupun pemeliharaan aset.

Berdasarkan alasan tersebut maka pemerintah daerah melakukan rasionalisasi yang diantaranya adalah dengan penggabungan yaitu pengintegrasian sekolah yang berada dalam satu komplek bangunan di lokasi yang sama menjadi satu sekolah yang dikelola oleh satu manajemen yang profesional melalui reorganisasi dan restrukturisasi menjadi satu sekolah baru.

Di provinsi DKI Jakarta, realisasi penggabungan sekolah didasarkan pada SK Kadis Pendidikan Provinsi DKI Jakarta No. 1349/2012 tentang penggabungan sekolah dasar negeri. Namun sayangnya, SK Kadis ini tidak diserta pedoman teknis pelaksanaan di lapangan sehingga cenderung ditafsirkan bermacam-macam sesuai kepentingan suatu kelompok.

Bersambung …

About Hendrawarman Nasution

JUST AN ORDINARY PERSON
This entry was posted in Education. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s